Berita

Roti Klasik

Berita / 23 Nov 2021

Semarang, 3 Febuari 2012 

Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya, terik cahaya matahari siang ini sangat amat menyilaukan pandanganku. Saat ini aku masih mengangkat karung besar berisikan sampah-sampah yang ku temukan di sekitar jalanan mulai dari sampah botol plastik, tisu, bungkus makanan yang tersisa dan lainnya. Ku angkat kepalaku melihat ke arah matahari yang entah mengapa sangat cerah hari ini lalu memejamkan mataku sebentar dan kembali mengambil sampah sampah yang berserakan. Kalau boleh memilih aku akan memilih untuk diam di rumah bersantai sambil menikmati minuman dingin atau mungkin duduk di bangku sekolah sambil mendengarkan guru menerangkan. Ketika sampai di sekitar sekolah mataku secara otomatis langsung melihat ke arah gerbang sekolah yang di kerumuni anak-anak seusiaku tapi dengan nasib yang berbeda, tentunya.

Aku menghela nafas pelan sembari mengusap pelipisku yang penuh dengan bulir-bulir keringat, ku lepas topi hitamku yang kudapatkan dari hasil menyelam kolam sampah masih bagus tapi kenapa orang membuangnya? hanya sedikit kotor karena sudah tenggelam di kolam sampah, tanpa ku sadari aku melamun melihat ke anak-anak seusiaku yang bermain di sekolah, sambil terdiam di depan tumpukkan sampah dan menikmati panasnya hari ini mengharapkan kalau saja ibuku masih ada di dunia mungkin sekarang aku tidak perlu memungut dan mengumpulkan sampah untuk mendapatkan uang.

"Asmara!" kaget laki-laki yang bernama Hari sedikit lebih tua dari ku, aku langsung tersadar dari lamunanku dan menengok ke arahnya, tersenyum tipis lalu menjawab tegurannya "ya?" ia tersenyum saat mengetahui kemana pandanganku mengarah, "ambil sampahnya! jangan malah melamun" ucapnya. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus sedikit mendongak saat berbicara dengannya, aku terkekeh kecil sambil memungut sampah di depanku lalu bertanya "kakak pernah iri sama mereka gak sih?" yang di tanya diam dan berjalan mendahului ku, memungut sampah di dekat pohon, "pernah" jawabnya.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku, kukira hanya aku yang iri ke anak-anak sekolahan, bisa memakai seragam yang bagus, makan-makanan yang enak dan tentunya bisa mempelajari ilmu-ilmu. Ku angkat kakiku berjalan ke Hari kami berjalan menelusuri trotoar sambil memunguti sampah. Tidak ada percakapan di antara kami sampai saat kami tiba di depan warung yang menjual minuman segar dan tentunya makanan-makanan.

Ku lihat Hari menatap ke kulkas yang didalamnya terdapat air mineral dingin dan berbagai macam minuman lainnya. Aku tau dia haus begitupun juga aku, tiba-tiba muncul pertanyaan yang terlintas di kepalaku saat aku melihat makanan-makanan yang terususn rapih di atas meja 'Safira dan Elang nanti makan apa?' aku langsung diam melamun ke arah makanan-makanan di depanku. Kami berdua terlihat seperti dua bocah yang menyedihkan melamun ke makanan dan minuman di depan kami, tenggelam dalam pikiran dan harapan masing-masing. Aku melihat ada gadis yang sangat cantik membeli roti dan minuman yang cukup banyak, gadis itu dikuncir kuda, bahkan saat ia melewatiku tadi aroma shampoo nya tercium, kulitnya putih bersih, pipinya berwarna merah muda, matanya bersinar-sinar, bibirnya juga berwarna merah yang sama dengan pipinya.

Lagi-lagi aku menghela nafas namun kali ini agak panjang dan berat, berpikir bagaimana nikmatnya perempuan di depanku membeli tanpa melihat harga dan dalam jumlah yang banyak, pasti ia kalangan orang kaya.

Tiba-tiba saja ia datang ke arahku dan menepuk bahuku pelan lalu tersenyum "halo...kak ini buat kakak, ini aku beli roti isi coklat klasik dan air mineral." ucapnya sambil memberikan plastik hitam berisikan roti coklat klasik empat buah dan air mineral dua botol, aku terdiam gelegapan mengambil kantong plastik yang di berinya gadis tadi juga memberikan plastik hitam berisikan sama kepada Hari, beda denganku Hari langsung dengan cepat mengambil plastik hitam yang di berikan dan mengucapkan terimakasih berulang kali. "Makasih banyak kak..." aku ikutan mengucapkan terimakasih kepada gadis cantik itu, yang di terimakasihi hanya tersenyum manis dan menjawab 'ya' berulang kali sebelum ia pergi berjalan masuk ke sekolah.

Aku melihatnya berjalan semakin jauh dan tak lama hilang dari padanganku, kalau saja aku mampu saat ini aku juga sedang memakai seragam yang sama dengannya bukan kaos putih yang sudah kusam dan robek-robek. Sepertinya usia kita samahanya nasib yang membedakannya. 


Hari sudah semakin gelap, matahari yang tadi terasa begitu cerah kini sudah mulai memudar digantikan oleh cahaya redup-redup dari bulan begitu juga aku yang kini sedang berjalan ke rumah kecil yang sebenarnya lebih cocok di sebut dengan gubuk dengan atap dari kumpulan karung- karung bekas dan lantainya dari kardus. 

"kak Asmara!!" panggil seorang bocah lelaki begitu aku masuk ke gubuk tersebut dengan berbekalan kantong plastik berisikan roti dan air putih tadi siang, belum ku makan sedikitpun karena mengingat aku mempunyai dua adik yang masih kecil. "Elanggg" aku menjawab panggilan bocah bernama Elang tadi, kalau saja kami bisa sekolah aku sekarang duduk di kelas dua SMP dan Elang berada di kelas tiga SD. Elang yang berada di depanku langsung mengambil plastik hitam yang ku bawa dan membuka isinya. 


Dengan mulut yang menganga dan mata yang tidak percaya menatap ke arahku seolah-olah mengatakan 'dapat roti ini dari mana?' tak lama muncul seorang gadis lainnya menghampiriku dan Elang, rambutnya dikuncir dua sambil mengatakan "kak bawa apa? aku tadi lagi ngajarin Elang membaca ehh anaknya kabur" aku yang mendengar keluhannya tertawa lalu menjawab pertanyaan gadis itu tadi, "roti dek" yang di jawab hanya dengan bibir yang berbentuk huruf 'O' kalau yang ini namanya Safira hanya berbeda tiga tahun dari Elang berarti seharusnya ia duduk di kelas enam SMP. Safira sendiri berbeda denganku dari kecil dia memang sudah pintar seperti membersihkan sesuatu yang kotor atau pergi berjalan-jalan dan bertanya kepadaku setiap kali ia melihat papan iklan atau gerobak-gerobak makanan "kak kalau ini apa bacanya?" atau "kak ini apa namanya" dan aku hanya menjawab dengan sesabar mungkin. 


Aku menutup pintu yang terbuat dari kain bekas dan duduk di lantai beralaskan kardus itu yang tentunya Safira dan Elang mengikutiku duduk di kanan kiriku. "tadi ada anak cantikkk banget kasih roti ini ke kakak" ku mulai menceritakan kejadian tadi siang sambil mengambil roti dan membagikannya ke Elang dan Safira, Elang langsung membuka bungkus rotinya dan memakannya sedangkan Safira merespon ceritaku sambil membuka plastik rotinya, "oh ya? kakak ketemu dimana" aku terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaannya "di...depan sekolah, dekat dengan masjid yang sering kita lewati" sekarang aku ikut mengambil roti dan membuka plastiknya. 


Rotinya enak, saat ku gigit isian coklatnya langsung keluar, rasanya manis dan sangat lembut kulihat ke kanan dan kiriku Elang dengan rotinya yang sudah tinggal setengah dan mulutnya yang belepotan selai coklat dan Safira yang memotek rotinya menjadi beberapa bagian lalu melahapnya.


 

Ini kali pertama seseorang memberi kami roti, biasanya orang-orang akan memberi kami sesuatu yang lebih berat seperti nasi bungkus atau mie instan yang sampai sekarang belum bisa kami makan karena harus diseduh dengan air panas, danmangkuk? tidak mungkin mendapatkan mangkuk utuh yang bersih di kolam sampah bukan?? 'roti coklat klasik' namanya, sebenarnya hanya roti berisi selai coklat biasa tapi roti ini sangat enak, aku tidak paham dimana letak klasiknya tapi kurasa isian coklatnya dibuat benar-benar dari coklat asli dan tidak menggunakan bahan tambahan apapun. Mungkin juga cara membuatnya menggunakan teknik zaman dulu, selain rasanya bentuknya juga terlihat sangat tua bukan seperti model roti zaman sekarang. 


Aku tau kalau Elang dan Safira sering menatap ke arah pedagang-pedagang roti atau anak-anak yang dengan bahagia melahap roti mereka tapi darimana aku bisa mendapat uang untuk membelinya? yang harus kulakukan saat ini berkerja dengan keras agar dapat membelikan mereka roti suatu hari nanti. 

 

Jakarta, 13 Mei 2018 


Bibirku yang semula terlihat masam kini mulai menarik sudutnya masing-masing ke kanan dan ke kiri, memori indah yang tiba-tiba saja melintas di benakku saat melihat roti yang di sajikan di rak berwarna hijau tua, 'roti coklat klasik' aku membaca tempelan yang tertempel di plastik roti tersebut tanpa pikir panjang aku langsung mengambil roti tersebut, ku ambil tiga buah roti dengan air mineral dingin dua botol "bu ini yaa" pintaku kepada sang ibu-ibu penjual dan ibu tersebut langsung menghitungnya dengan kalkulator dan menaruhnya di plastik berwarna hitam, aku melihat-lihat sekitar toko tersebut dan secara tidak sengaja mataku menangkap sosok bocah yang sedang menatap balik ke arahku dengan tatapan yang sendu. 


Begitu ibu penjual mengucapkan harga aku langsung mengambil 2 buah roti yang sama tetapi dengan ukuran yang lebih besar dan dua botol air mineral "tambah ini bu tapi tolong dipisah ya plastiknya.." pintaku kepadanya, ibu penjual mengangguk dan memberi pesananku tadi setelah mengucapkan harga, aku langsung membuka dompet dan membayarnya lalu berjalan ke bocah tadi. Ku beri plastik berisikan dua buah roti besar dan dua botol air mineral kepadanya "halo dek..ini buat kamu yaa" ucapku sambil tersenyum kepadanya, yang di beri roti membalas senyumanku kaku mengucapkan "terimakasih" dengan buru-buru lalu pergi lari ke laki-laki di belakangnya yang sepertinya adalah kakaknya. 


Lagi-lagi aku tersenyum mengingat dulu juga seperti itu saat ada yang memberi roti kepadaku bedanya aku tidak lari ke orang lain kemudian aku berjalan masuk ke gedung Universitas bersama Melati yang dari tadi sudah menungguku di depan gerbang. Kalian masih ingat dengan gadis cantik yang kuceritakan tadi kan? dia yang minta kepada orang tuanya untuk membiayai aku dan adikku sekolah dan tinggal di rumah, Melati namanya cantik dan harum seperti orangnya. Sekarang Melati sudah menjadi sahabatku, kita masuk ke Universitas yang sama dengan jurusan yang sama juga, aku sangat amat berterimakasih kepada tuhan sudah mempertemukanku dengan Melati. 

 

Tok tok tok 


Kalau dulu aku tidak mengetuk pintu sekarang aku bisa mengetuknya dan tentu saja pintunya terbuat dari kayu berwarna coklat, kalau dulu atap rumahku itu karung bekas sekarang atapnya sudah ada genteng yang anti air, banyak yang berubah pikirku. Tak butuh waktu lama terdapat sosok lelaki tinggi yang membukakan pintu untukku "mbak Asmara!!" sapanya dengan nada yang gembira tentunya dengan senyum yang sangat cerah. "dih kaya anak kecil, sini duduk lang! mana Safira?" tanyaku sambil melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi yang empuk. 


Dulu aku tidak pernah merasakan empuknya kursi yang kudapatkan hanya kardus keras, Elang mengikutiku lalu duduk di sebelah kiriku dengan raut wajah yang mengejek "anak kecil apaan, mbak Safira lagi di dapur" jawabnya, "kenapa pake mbak sih? kita udah di Jakarta tau" protesku dan di respon dengan tawanya. "loh mbak Asmara tumben udah pulang?" sekarang giliran sosok yang dari tadi ku cari datang, Safira keluar dari balik tirai dengan rambutnya yang di kuncir kuda dan tangan kanannya yang memegang spatula dengan noda sambal,?aku mendengus saat mendengar kedua adikku memanggilku 'mbak' Elang yang berada di sebelahku tertawa kencang sekali mendengar Safira memanggilku dengan panggilan yang sama, aku protes kepadanya "naon sih mbak mbakan? 'kak' gitu elitan dikit" 


Elang tertawa puas, "biar beda mbak Asmaraarespon Safira dengan wajahnya yang menyebalkan lalu duduk di samping kananku. "cocokan 'mbak' tau daripada 'kak' Asmara'" ucap Elang yang ku tanggapi dengan memukul lengannya pelan sambil melotot ke arahnya, "sst diem!" perintahku, aku membuka isi plastik hitam dan memberinya ke Safira dan Elang, Elang menganga saat aku memberinya roti dan langsung membuka plastiknya dan melahapnya "roti coklat klasik.." ucapku "dia buka juga ya di Jakarta?" tanya Safira yang membagi rotinya menjadi beberapa bagian lalu melahapnya, aku juga ikut melahap roti bersejarah tersebut rasanya masih sama, manis dan lembut. 


Aku menganggukan kepalaku "iya kali dia buka di Jakarta juga, enak sih rotinya jadi gak heran dia punya cabang disini" jawabku, kini gantian Safira yang menganggukan kepalanya padahal warung kecil tapi ibunya hebat bisa membuka toko roti di sini juga. Satu kebiasaan yang ku perhatikan dari Elang adalah dia tidak pernah membuka mulutnya atau mengobrol saat makan karena itu yang menjawab pertanyaan Safira tadi hanya aku. 


"rasanya masih sama, ibu-ibunya hebat" ucap Elang setelah ia selesai menelan potongan terakhirnya, Safira dan aku mengangguk setuju dengan pendapat Elang, kami terdiam sejenak larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Elang membuka suara "kok bau gosong ya..." Safira yang tadi sedang melahap rotinya dengan santai langsung melongo ke arahku dan Elang lalu buru-buru berlari ke dapur di balik tirai. 

Terdengar suara Safira mengeluh berulang kali di belakang sana, aku dan Elang yang mendengarnya tertawa ria di atas penderitaan sambal gosongnya itu. 


Disusul dengan Elang yang merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan mengatakan "makan malam hari ini.... jeng jeng jengg, ayam goreng dengan sambal gosong buatan mbak Safiraaa!!!" lalu tertawa lepas begitu saja.