Aku memandangi sebuah kertas di
genggamanku. Masih bersih belum kena setitik pun tinta. Nanti kumpulkan
minggu depan saat pelajaran Ibu, ya. Jangan sampai lupa. Ujar Bu Farah mengakhiri pelajaran BK
kelas sembilan hari Selasa ini. Sementara beberapa temanku sedang sibuk mengisi
lembaran mereka masing-masing, aku termenung sendiri. Tertulis besar-besar di
kertas tersebut, Tuliskan cita-citamu. Apa, ya? Aku
memang tak pernah memikirkan mau jadi apa saat besar nanti. Ri, nanti pulang
sekolah mau main? Damar salah satu sahabatku, menepuk pundakku.
Tanpa pikir panjang, aku mengangguk sembari melipat kertas berisi pertanyaan
masa depan tersebut kecil-kecil dan menyelipkannya di saku.
Sekolah sudah terbilang sepi semenjak bel pulang berbunyi lima belas menit yang
lalu. Hanya tersisa segelintir murid yang punya keperluan tambahan, seperti aku
dan Damar yang asyik bermain di lapangan futsal. Setelah bermain cukup lama,
kami melepas penat di pinggir lapangan. Tendanganmu bagus. Ujarku sembari menenggak hampir setengah botol minuman. Benarkah? Aku berlatih terus saat liburan kemarin biar makin mantap.Ujar Damar terkekeh. Aku tahu, Damar mencintai sepakbola lebih dari
apapun. Ia terlihat berseri-seri ketika ditanyai hobi, apalagi cita-citanya. Tentu saja aku isi pemain sepakbola di timnas Jawabnya sewaktu kutanya apa isi lembar pertanyaan BK miliknya.
Kamu isi apa, Ri? Tanya Damar.
Aku tersenyum sendu menanggapi pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya. Belum isi. Aku tidak tahu harus isi apa. Ujarku seraya mengamati kerikil di bawah sol sepatu. Yaa, tidak apa-apa. Diisi pelan-pelan saja. Mulai dari memikirkan apa
yang kamu sukai saja. Ujar Damar
menepuk-nepuk pundakku, memberi semangat. Hari sudah menjelang sore. Langit
sore tertutup sebagian oleh arakan awan kelabu pertanda hujan. Kami cepat-cepat
membereskan tas dan pulang ke rumah.
Usai makan malam, seperti biasa aku mengerjakan tugas dan mengulang
materi-materi hari ini. Di tengah-tengah mengulang materi, kepalaku tiba-tiba
terasa penuh. Kuputuskan untuk berhenti sejenak dan memejamkan mata. Terngiang
ucapan Damar tadi sore tentang memikirkan apa yang aku sukai. Bagai mengorek
sebuah lubang, aku menjelajahi diriku dalam gelap dan tersadar setelah beberapa
saat. Kubuka salah satu laci meja belajarβyang entah berapa lama tak pernah
kusentuh. Hanya ada sebuah buku tulis kecil yang sudah usang. Buku yang menjadi
saksi masa kecilku. Aku ingat apa yang kusukai, menggambar. Tapi itu dulu.
Orangtuaku tak begitu senang dengan aku yang menggeluti bidang seni rupa
tersebut. Pernah suatu kali, di suatu titik dimana aku mengutarakan keinginanku
untuk bekerja di bidang ini. Tetapi, mimpi kecilku itu harus kukubur
dalam-dalam karena orangtuaku yang menginginkan aku menjadi dokter. Kalau
kamu jadi tukang gambar dan semacamnya itu, kamu mau makan apa? sekiranya, itulah yang ibuku katakan. Sebutlah aku pengecut. Toh,
memang aku tak ada bakat juga. Aku membalik-balik halaman demi halaman buku
tulis penuh gambar itu dengan perasaan tercekat. Beberapa halaman terakhir
masih kosong. Terbesit keinginanku untuk menggambar sesuatu diatasnya.
Kugoreskan pensilku kesana-kemari entah jadi apa bentuknya. Memang tak bisa dibilang bagus, tetapi rasanya seperti bernostalgia. Bertemu teman lama yang selalu kurindukan. Aku akhirnya menyadari betapa berharganya mimpi kecilku untuk diwujudkan. Dengan hati yang mantap, aku bertekad untuk melakukan apa saja untuk mewujudkannya. Bukan mimpi orangtuaku, melainkan mimpi yang selalu kurindukan.