Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Teruntuk
Bu Yanih, Pak Alfian, dan seluruh Bapak/Ibu Guru.
Namaku
Haidar, sekarang aku duduk di kelas 4. Sampai dengan hari ini tak terasa sudah
20 bulan Corona datang merusak pola hidup kita. Banyak hal yang berubah karena
Corona. Banyak keluarga yang kehilangan orang-orang terdekatnya. Kehilangan
pekerjaan, ketakutan melakukan aktivitas di luar rumah, hingga terbatasnya
pelaksanaan ibadah salat berjamaah dan bersilaturahmi menjadi kebiasaan baru
kita karena Corona.
Begitu juga dengan sekolah. Sejak Corona melanda aku belajar dari rumah. Tentu
saja banyak hal yang berbeda ketika aku bersekolah seperti sebelumnya. Biasanya
sebelum berangkat ke sekolah aku bersiap lebih awal untuk pergi sekolah. Hal
ini karena jalur kendaraan dari rumahku ke sekolah adalah jalur yang sangat
padat. Jadi berangkat lebih awal supaya tidak terjebak macet dan terlambat tiba
di sekolah. Kegaduhan di pagi hari di rumahku menjadi aktivitas yang kadang aku
rindukan. Bayangkan saja, jika terlambat beberapa menit saja dari rumah maka
sudah bisa dipastikan kami akan tiba di sekolah satu jam lebih lama. Oh ya, aku
berangkat bersama Bunda diantar Ayah. Bundaku mengajar di SMA.
Saat belajar dari rumah, hal diatas sudah tidak ada. Aku belajar di rumah,
Bunda tetap mengajar dari sekolah. Ayahku terkadang lebih sering bekerja di
luar kota. Seperti beberapa bulan lalu, Ayah dinas di Luwuk Sulawesi Tengah.
Keadaan ini membuatku benar-benar sendiri di rumah. Jika terjadi kendala aku
biasanya menghubungi Bunda melalui WhatsApp. Saat kegiatan PTMT dibuka pun, akhirnya aku tetap
memilih belajar dari rumah. Meski sebetulnya ingin belajar di sekolah, tapi
keadaan kami tidak memungkinkan.
Bu Yanih dan Pak Alfian,
Sebetulnya aku rindu sekolah. Apalagi kita belum pernah bertemu secara langsung. Kita
hanya saling bertatap muka melalui Google Meet saja. Tentu saja berbeda. Aku
juga rindu suasana belajar di kelas, bertemu dengan teman-teman, bermain
bersama ketika jam istirahat, makan bersama, salat zuhur berjamaah, olahraga
bersama, menggambar bersama, hingga jajan di kantin pun aku rindu.
Beberapa waktu lalu, sempat ada harapan untuk kembali sekolah seperti biasa. Namun
minggu ini pemerintah kembali mengumumkan pelaksanaan PPKM. Tentu saja agak
membuat aku jadi kecewa. Kata Ayah dan Bunda, kita harus taat pada aturan yang
berlaku.
Bu Yanih dan Pak Alfian,
Beruntung aku bersekolah di Dian Didaktika. Aku punya guru-guru yang sangat baik dan
sabar. Meski belajar dari rumah, semangatku tidak pernah surut untuk terus
menuntut ilmu. Guru-guru memberikan bermacam kegiatan menyenangkan. Meskipun
online aku tetap senang belajar. Memang sih terkadang tugasnya jadi banyak.
Untungnya Bunda selalu mengingatkan ku untuk mengerjakannya, meski kadang agak
cerewet.
Bu Yanih dan Pak Alfian,
Aku beruntung dapat belajar bersama Ibu dan Bapak. Tentu kondisi pandemi ini juga
tidak mudah untuk Bu Yanih dan Pak Alfian.
Aku bisa melihat hal itu dari apa yang dilakukan Bundaku, Bunda juga seorang
guru. Pandemi punya tantangan besar buat Bapak/Ibu guru. Contohnya adalah
bagaimana membuat pelajaran lebih menarik dalam belajar dari rumah. Aku hanya
bisa mendoakan supaya Bu Yanih, Pak Alfian serta semua guru-guru di Indonesia
tetap sehat dan semangat meski Pandemi. Aku akan berusaha belajar lebih giat
dan lebih baik lagi.
Selamat
Hari Guru Bu Yanih dan Pak Alfian, Bundaku, dan seluruh guru di Indonesia.
Semoga tetap sehat, kuat, dan hebat menghadapi kondisi Pandemi ini.
Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Depok,
21 November 2021
Dari Haidar.