Meredam Hoaks di Era Digital

Meredam Hoaks di Era Digital

Oleh Fayanna Ailisha Davianny, Siswi SMP Islam Dian Didaktika, Penulis 45 Novel Anak.

*Esai ini menjadi juara II Lomba Menulis Esai Pelajar tingkat Jabodetabek yang diselenggarakan Turun Tangan Jakarta.

 

Saat ini kita memasuki zaman terbuka. Zaman di mana semuanya serba praktis dan instan. Dulu, butuh pengorbanan untuk mencari informasi. Kita harus membeli koran atau dengan menonton televisi yang kadang beritanya bertumpuk dengan acara hiburan.

Berbanding terbalik dengan zaman sekarang. Hanya perlu sekali mengetik di mesin pencari, informasi akan muncul. Kita seketika bisa menangis melihat kabar nyawa anak  terenggut dalam gempa di Palu. Tak berselang lama, kita menjadi geram saat membaca kabar kepala daerah yang korupsi.

Sedih, senang, dan galau berganti dalam hitungan menit. Begitu cepat rasa kita berubah karena kabar yang bertubi menjejali. Karena mudah, kita jadi terbiasa dan haus akan informasi. Seakan kita berada pada kondisi bila kita tidak tau informasi terkini maka kita akan dihempas oleh zaman.

Dari Laju yang Cepat itu

Ada manfaat positif saat kita updete informasi. Kita bisa ada bahan obrolan dengan teman sebaya. Kita juga bisa menyesuaikan musik dan fashion agar diterima dalam lingkungan sosial.

Namun, terkadang kita lupa untuk menyaring informasi. Hasrat untuk melahap informasi, lebih besar dibandingkan logika berpikir kita. Informasi yang kebenarannya belum pasti, langsung menyebar begitu saja. Hingga muncullah fenomena hoaks.

Hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Menurut Wikipedia Indonesia, hoaks mengandung makna berita bohong, yakni berita yang tidak bersumber. Hoaks tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta. Tak heran apabila banyak orang di era teknologi ini yang luput menyaring dan memilih untuk langsung percaya.

Ada beberapa alasan yang menjadikan hoaks tetap ada. Pertama, akibat faktor jurnalisme yang rendah sehingga tidak adanya cek dan saring berita sebelum disebar. Saat ini ada banyak media online. Itu belum ditambah masyarakat yang membuat berita pada blognya masing-masing. Tak sedikit penulisan berita tersebut yang melenceng dari unsur berita 5W+1H. Misalnya judul yang tak sesuai dengan isi berita.

Kedua, yakni faktor ekonomi. Penyebaran hoaks adalah sebuah bisnis. Semakin banyak orang membuka informasi yang dibaca dalam sebuah situs, maka pemilik situs tersebut akan memperoleh keuntungan. Media yang biasanya digunakan saat penyebaran bisa berbentuk gambar, foto sampai video.

Berita hoaks adalah salah satu ancaman terbesar negeri ini. Era digital seperti saat ini, membuat masyarakat lebih mudah percaya dengan berita yang langsung mudah terakses.

Masyarakat Telematika Indonesia (dalam liputan6.com, 13/22) merilis survei tentang informasi palsu yang tengah marak di Tanah Air. Dari hasil survei itu, diketahui bahwa media sosial menjadi sumber utama peredaran hoaks.

Proses survei dilakukan secara online dan melibatkan 1,116 responden. Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan berita mengenai Sosial-Politik, baik terkait Pemilihan Kepala Daerah atau pemerintah, adalah jenis hoaks yang paling sering ditemui, dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen. Selain itu, 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoaks dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram. Saluran penyebaran hoaks lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. Sebanyak 96 persen responden juga berpendapat hoaks dapat menghambat pembangunan.

Dalam survei yang sama juga diungkapkan 90,3 persen responden menjawab bahwa hoaks adalah berita bohong yang disengaja, 61,6 persen mengatakan haoks adalah berita yang menghasut, 59 persen berpendapat hoaks adalah berita tidak akurat, dan 14 persen menganggap hoaks sebagai berita ramalan atau fiksi ilmiah.

Dari data-data statistik di atas, menjadi bukti bahwa hoaks telah menjadi salah satu masalah yang sedang marak terjadi dan sangat berbahaya untuk perkembangan bangsa selanjutnya.

Upaya Meredam

Kita sebagai rakyat Indonesia bukan hanya diam dan meratapi kehidupan yang sedang memburuk ini. Kita sebagai bagian dari negeri ini harus berusaha untuk bertindak untuk meredam hoaks.

Pertama, membudayakan kejujuran dalam keluarga. Salah satu alasan mereka tumbuh menjadi generasi yang senang menyebarkan berita palsu adalah dengan masalah kejujuran yang tumbuh dalam dirinya. Orang yang hatinya terjaga dan penuh dengan rasa tanggung jawab tidak akan menyebarkan berita hoaks yang merugikan. Kita sebagai manusia jujur akan takut menyebarkan kebohongan.

Kedua, meningkatkan kegemaran membaca dan menulis pada anak. Dengan penerapan kebiasaan membaca dan menulis, kita sebagai orang Indonesia tidak akan mudah percaya dengan berita hoaks sebelum disaring. Naluri kita akan terbiasa mencari pembanding atas suatu kebenaran.

Semakin banyak membaca kita akan kaya kosakata. Kita akan tau cara penulisan berita yang baik dan benar. Berita hoaks biasanya penulisan kata-katanya tidak memenuhi kaidah penulisan bahasa Indonesia, baik dari judul maupun isinya.

Ketiga, membiasakan berpikir sebelum bertindak. Hal ini sebagaimana pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia bahwa seorang terpelajar harus sudah berbuat adil dalam pikiran apalagi perbuatan.

Kita harus menyaring terlebih dahulu sebelum berita tersebut disebarkan ke kalangan yang lebih luas. Ketika sebuah berita datang dan disebarkan oleh situs-situs tidak resmi, sedangkan berita tersebut belum dibenarkan oleh badan resmi, maka kita jangan mudah percaya.

Ketika kita sebagai manusia era modern ini menerima sebuah informasi yang belum jelas sumbernya, yang harus kita lakukan untuk membuktikan kebenarannya adalah dengan mengecek berita tersebut dari situs terkenal yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan. Kita sebagai penerima informasi, jangan asal menyebar.

DD

Sekolah Islam Dian Didaktika adalah sekolah yang ingin Ikut serta mengamalkan ajaran Islam serta membantu pemerintah dalam mengembangkan pendidikan/pengajaran, kesehatan, dan sosial/budaya

KEGIATAN


@diandidaktika

dian didaktika

ALAMAT


Jl. Rajawali Blok F No. 16 Cinere Estate, Gandul Kec. Cinere, Kota Depok Jawa Barat 16512 | Telp. (021) 7543241, 7543241 Fax. (021) 7533865

info@diandidaktika.sch.id