Jembatan Harapan Karya: Amanda

Kategori: Berita Kegiatan SD Dibuat: 18 Desember 2018
Ditulis oleh Admin Web Dilihat: 72

Saat aku terbangun dari tidurku, aku melihat ke arah jendela. Ternyata langit masih begitu gelap. Namun aku harus cepat-cepat merapikan barang-barang yang harus aku bawa ke sekolah. Aku menyiapkan buku sekolah, alat tulis, baju ganti, dan yang terpenting adalah plastik. Plastik sangat penting bagiku karena di dalamnya aku  menyimpan sepatu dan baju gantiku

Setiap aku sedang di perjalanan menuju sekolahku pasti aku dan teman-temanku harus menyebrangi sebuah sungai yang aliran airnya cukup deras pada saat musim hujan. Aku dan teman-temanku sebenarnya terpaksa melewati sungai itu, tapi hanya itulah jalan yang bisa kami pilih. Setelah menyeberangi sungai yang tingginya bisa mencapai dada kalau air sedang tinggi, baju kami basah. Untuk itu biasanya sampai sekolah kami baru ganti seragam.

Maka dari itu, untuk menuju sekolah saja kami butuh perjuangan, apalagi untuk menuntut ilmu. Kami sangat tidak nyaman setiap pagi harus melewati bebatuan yang sangat banyak dan melewati derasnya aliran air.

Saat di perjalanan menuju sekolah akhirnya aku tiba di sungai yang airnya masih cukup jernih. Sungai itu berada di Desa Bonto Matinggi, Sulawesi Selatan. Di sungai itu terdapat bebatuan yang tidak beraturan letaknya. Di tepian sungai berjajar pepohonan rindang dan yang membuat suasana semakin teduh.

Senin yang lalu Kepala Desa mengumumkan bahwa akan segera dibuat sebuah jembatan kayu untuk menyeberangi sungai. Aku dan teman-temanku merasa sangat senang sekali.  Harapannya dengan jembatan itu kami tidak harus melewati aliran sungai untuk pergi ke sekolah.

Satu bulan kemudian, jembatan untuk menyebrangi sungai sudah jadi. Aku sangat senang  karena aku tidak perlu membawa plastik dan baju ganti lagi ke sekolah. Namun, belum sampai satu bulan kami melewati jembatan itu, semua harapan yang kami gantungkan pada jembatan itu seketika hilang.

Waktu itu di awal musim hujan. Angin kencang dan hujan yang deras mengguyur desaku. Saat aku sampai di rumah aku sangat heran karena semua orang berbondong-bondong lari bersama-sama dan berteriak “Jembatan roboh!”.

Di situ aku langsung kaget dan ikut berlari ke arah jembatan itu. Rasanya baru kemarin aku melihat keadaan jembatan yang masih sangat bagus, tetapi tiba-tiba semuanya berubah. Aku dan teman-temanku sangat sedih setelah melihat keadaan jembatan itu. Setelah suasana sudah tenang aku pun bertanya kepada Kepala Desa.

“Pak kenapa jembatan bias roboh?” ujarku.

“Jembatan roboh karena angin  kencang dan hujan deras”katanya.

“Apa ada korban jiwa pak?” aku pun bertanya kembali.

“Alhamdulillah tidak ada. Tapi Andi anak bapak yang juga temanmu, sempat terpeleset jatuh ke sungai karena kebetulan sedang melewati jembatan itu. Untungnya tidak sampai terbawa arus”

“Astagfirullah, semoga tidak ada luka yang parah ya, Pak”

“Amin... Terima kasih nak..”

Setelah itu aku ikut mengunjungi rumah pak lurah untuk menengok andi.

Kini aku dan teman-temanku harus kembali seperti dulu lagi, harus basah-basahan untuk sampai ke sekolah. Yang semakin membuat kami sedih adalah keadaan Andi yang belum juga pulih dari lukanya dan belum bisa masuk sekolah.

Hari demi hari kami lewati dengan perjuangan untuk sampai ke sekolah. Kami sempat sangat putus asa dengan keadaan itu dan ingin tak berangkat sekolah saja. Tapi, kami saling menguatkan. Terlebih lagi tahun depan kami sudah akan naik ke kelas 6 SD.

Memasuki akhir tahun ada rencana pembangunan jembatan kembali karena banyak warga yang mengeluh ketika menyebrangi sungai. Namun, aku tak banyak berharap. Aku khawatir jembatan akan kembali roboh.

Setelah libur semester, seperti biasa aku dan teman-temanku berangkat ke sekolah. Hari ini kami lebih bersemangat dari biasanya karena ini adalah hari pertama masuk sekolah semester dua. Teman-temanku menghampiri aku ke rumah.

"Yuk berangkat!" kata temanku Andi yang sudah pulih dari lukanya.

Kami langsung berangkat bersama-sama menuju ke sekolah.

Saat kami hendak menyeberangi sungai, kami sangat terkejut. Di depan kami ada sebuah jembatan yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.  Jembatan itu bukan lagi terbuat dari kayu, tetapi sebuah besi yang kokoh.

Kami sangat senang. Di situ aku sudah tidak bisa lagi menggambarkan raut mukaku seperti apa. Dengan perasaan gembira kami pun langsung menyeberangi sungai itu dengan menaiki jembatan yang baru saja jadi.