Napak Tilas Nabi Ibrahim Alaihi Salam

Dibuat: 14 September 2015
Ditulis oleh Web Admin Dilihat: 2012

shalat masjidil haram

 

Ketika ada saudara kita seorang muslim menunaikan ibadah haji ke Mekkah, orang sering menyebutnya sebagai memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as. Sebutan yang demikian itu memang dapat dibenarkan, karena memang seruan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dimulai ketika Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as, agar beliau menyeru kepada manusia untuk datang ke Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji.

 

 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Al Haj (22) : 27) 

 

Hal ini mengandung arti bahwa panggilan untuk menunaikan ibadah haji sudah ada sejak Nabi Ibrahim as diutus oleh Allah SWT.

 

Kemudian, apabila kita menelusuri proses pelaksanaan ibadah haji, dari awal sampai akhir, maka akan nampak kepada kita adanya beberapa bagian ibadah yang seakan-akan merupakan pengulangan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Ibrahim as.

Peristiwa-peristiwa itu adalah sebagai berikut:

 

  1. Ibadah Sa’i

Yaitu ibadah yang dimulai dari Shofa dan Marwa, dimana jamaah berjalan dan berlari kecil diantara kedua bukit yang jaraknya + 900 m. Ibadah ini mengingatkan kita kepada peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim as) dan puteranya (Ismail) yang pada saat itu masih bayi. Ketika itu Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi itu, ditinggal oleh Nabi Ibrahim di padang pasir yang tandus dan kering, dengan persediaan makan dan air yang tidak seberapa. Oleh karena keberadaan Siti Hajar dan anaknya di padang pasir yang kering dan tandus itu didasari oleh perintah Allah, maka Siti Hajar ikhlas menerimanya, dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman dan taat.

Namun ketika persediaan air telah habis, timbullah rasa khawatir yang luar biasa pada diri Siti Hajar. Keadaan itu telah memaksa Siti Hajar lari kian kemari, diantara dua bukit yaitu Shofa dan Marwa, untuk mencari air bagi bayinya.

Dalam kecemasan yang luar biasa itu maka Allah yang Maha Pemurah, telah menunjukkan kasih sayang-Nya, yaitu dengan timbulnya mata air tepat di dekat bayi Ismail berada. Sumber air itulah yang kita kenal sebagai sumur air zamzam.

Peristiwa berlari-larinya Siti Hajar dari bukit Shafa dan Marwa itulah yang kemudian diabadikan sebagai ibadah sa’i.

 

  1. Melempar Jumrah

Peristiwa lain yang berkaitan dengan ibadah haji adalah melempari jumroh. Kegiatan ibadah itu mengingatkan kita akan peristiwa bagaimana Nabi Ibrahim melawan godaan syaetan. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih puteranya Ismail, masuklah syaitan menggodanya.

Keteguhan hati Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail untuk melaksanakan perintah Allah, mendapatkan gangguan dan godaan dari syaitan. Dalam rangka menghalau syaetan yang menggoda itulah Nabi Ibrahim berkali-kali melemparkan batu untuk mengusir syaetan.

Peristiwa itu diabadikan dalam ibadah haji sebagai kegiatan ibadah melempar jumrah.

 

  1. Penyembelihan Hewan Qurban

Walaupun menyembelih anak sendiri, susah untuk dibayangkan, apalagi anak itu adalah anak yang telah lama ditunggu-tunggu kelahirannya namun karena perintah itu datang dari Allah SWT, Nabi Ibrahim dan Ismail tidak punya sikap lain, kecuali mentaatinya. Berkat ketaatannya kepada Allah, maka Allah yang Maha Pemurah, telah membebaskan Ismail dari pisau yang tajam, karena Allah telah menggantinya dengan seekor domba. Sehingga yang menjadi kurban adalah seekor domba.

Peristiwa itulah yang kemudian diabadikan sebagai perintah untuk menyembelih kurban pada hari raya Idul Adha.

 

 “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus” (Al Kautsar (108) : 1-3 

 

Hikmah yang dapat dipetik dari beberapa peristiwa yang diabadikan dalam proses ibadah haji itu antara lain:

  1. Siti Hajar memberikan contoh keteladanan, keimanan, keteguhan hati, ketawakalan kepada Allah yang maha Kuasa.
  2. Nabi Ibrahim memberikan tauladan tentang keteguhan iman, sehingga cintanya kepada Allah mengatasi cinta dan sayangnya kepada anaknya.

 

Drs. H. Hendraka, M.Sc

Ketua I Bidang Pendidikan

Yayasan Dian Didaktika