MISI KERASULAN RASULULLAH MUHAMMAD SAW

Dibuat: 30 Maret 2016
Ditulis oleh Pa Hendraka Dilihat: 7282

Ketika umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, yang sebenarnya diperingati bukanlah kelahirannya, tetapi adalah misi, ajaran, perjuangan untuk menegakkan misi yang dibawa. Misi dan ajaran yang dibawa pada dasarnya ada dua yaitu misi menegakkan tauhid dan membina akhlak yang luhur.

Unta

Muhammad saw dilahirkan pada tahun 570 M, di lingkungan masyarakat yang menyembah berhala, masyarakat musyrik, bahkan kafir. Ketika Muhammad diangkat sebagai Rasul yang ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama dari Allah SWT, maka tugas pertama dan utama dari Rasulullah Muhammad saw adalah menyampaikan ajaran tauhid, ajaran untuk beriman dan menyembah kepada Allah yang Maha Esa.

Ajaran Tauhid, sebenarnya bukanlah ajaran yang baru, karena ajaran tauhid merupakan prinsip dasar ajaran dari Rasul-rasul terdahulu, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Isa dsb.

Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (S. Al Anbiya (21):25).

 “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut diembah) selain Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa orang-orang mukmin.” (S. Muhammad (47):19)

 “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu. (S. Al Ikhlas (112): 1-2).

Tauhid merupakan misi yang pertama, yang diajarkan dan diperjuangkan oleh Rasulullah Muhammad saw di tengah-tengah ummatnya.

Walaupun dalam sejarahnya, Muhammad sejak mudanya sudah dikenal sebagai pemuda yang santun, yang dapat dipercaya, bahkan sampai mendapatkan julukan Al Amin, namun ketika beliau menyampaikan ajaran tauhid kepada kaumnya, Muhammad dengan ajaran tauhidnya itu tidak bisa diterima oleh mayoritas masyarakat Quraisy pada masa itu. Bahkan Muhammad dengan para pengikutnya mendapat tentangan yang keras dari masyarakatnya. Karena Muhammad dianggap menentang keyakinan dari para leluhurnya.

Ancaman, teror terhadap Nabi dan pengikutnya tidak pernah berhenti, hingga pengusiran terhadap Nabi dan pengikutnya dilakukan oleh para pemimpin Quraisy.

Namun Rasulullah sebagai pengemban misi tauhid, tidak goyah menghadapi tantangan dan rintangan dari kaumnya tersebut. Bahkan Nabi Muhammad tetap mengemban misinya hingga tugasnya selesai.

Misi kerasulan Nabi Muhammad saw yang kedua adalah misi kemanusiaan, yaitu membina akhlak yang luhur.

Dalam hubungan ini Nabi bersabda:

“Sesungguhnya aku (Rasul) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Baihaqi).

Bahwa akhlak sebagai ajaran pokok dalam agama, juga telah disampaikan oleh Rasulullah, ketika menjawab pertanyaan sahabat sbb:

“Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasul menjawab: “Akhlak yang baik”.

Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi).

Kalau Rasulullah Muhammad saw diberikan misi untuk membina akhlak ummat manusia, adalah suatu misi yang tepat, karena Nabi tidak saja mengajarkan akhlak yang baik, tetapi beliau adalah contoh dan tauladan bagi akhlak yang baik atau mulia itu. Bahkan Allah SWT dalam Al Qur’an memuji Rasulullah saw dengan menyatakan:

“Sesungguhnya engkau (Rasul) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (S. Al-Qalam (68:4).

Jadi ketika Rasul mendakwahkan perbaikan akhlak kepada masyarakat, beliau memiliki otoritas untuk mengajarkan akhlak itu bahkan menjadi contoh tauladan akhlak mulia bagi ummatnya.

Wabilahi taufiq walhidayah

Hendraka