Beranda / Berita / Sejarah Yayasan Dian Didaktika

Sejarah Yayasan Dian Didaktika

Yayasan 24 February 2020



AWAL BERDIRI

Salah satu pertimbangan yang melatarbelakangi pendirian Yayasan Dian Didaktika adalah belum banyaknya sekolah Islam yang dapat digolongkan baik di masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta dam sekitarnya. Sekolah-sekolah yang  lebih dikenal oleh masyarakat adalah sekolah-sekolah Kristen atau Katolik, seperti Tarakanita, Pangudi Luhur dll.

Pendirian Yayasan Dian Didaktika ini diprakarsai oleh Ibu Murdiati Sulastomo, orang yang memang sudah lama berkecimpung di bidang pendidikan.

Yayasan sebagai suatu lembaga sosial memiliki tujuan yang ideal, tujuan dari Yayasan Dian Didaktika sendiri adalah pertama, ikut serta mengamalkan ajaran Islam, dan yang kedua adalah membantu pemerintah dalam mengembangkan pendidikan, pengajaran, kesehatan, sosial dan budaya.

Tujuan untuk ikut serta mengamalkan ajaran Islam, adalah sesuatu yang sangat ideal, karena tidak mengharapkan keuntungan, harapannya hanyalah ridho dari Allah SWT.

Tujuan yang kedua juga merupakan tujuan ideal, tujuannya adalah memberikan sesuatu kepada masyarakat, memberikan sumbangan kepada masyarakat, bukan mengharapkan keuntungan dari pemerintah atau masyarakat.

Pendirian Yayasan itu diawali dengan pertemuan di rumah Dr. Sulastomo, di Perumahan Bapindo di Slipi, kemudian diikuti dengan proses pembuatan Akta Notaris.

 Pengurusan pembuatan Akte Notaris ini dilakukan sendiri oleh Ibu Murdiati Sulastomo dibantu oleh Ibu Suhatmi Santoso.

Ketika Akta Notaris sudah dibuat, dimana di dalamnya tercantum susunan pengurus yayasan yang pertama, apakah serta merta yayasan Ibu dapat berjalan? Tentu saja tidak akan pernah terjadi, kalau Ibu Nunuk selaku pemrakarsa, dan sekaligus sebagai Ketua Yayasan, tidak bergerak untuk memulai kegiatan, maka yayasan tidak benar-benar ada dan berdiri.

Dengan kerjasama dengan yayasan lain, Yayasan Dian Didaktika memulai kegiatan dengan mengadakan seminar dan simposium, dengan tema-tema pendidikan. Seminar dan simposium itu diselenggarakan di hotel-hotel besar dan menghadirkan pembicara-pembicara para ahli yang kondang.

Seminar-simposium tersebut telah menarik banyak peminat, sehingga pesertanya dapat mencapai 800 orang, mereka datang dari berbagai daerah di tanah air. Seperti Ujung Pandang, Banjarmasin, Pekan Baru, Surabaya, Malang, Solo, Klaten, Semarang, Pekalongan, dan kota-kota di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Kegiatan seminar dan simposium adalah kegiatan awal dan bersifat insidentil, yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat terhadap masalah pendidikan anak dari berbagai aspeknya.

Dalam rangka menghidupkan yayasan dalam arti yang sebenarnya, maka dimulailah usaha dan kegiatan yang berkelanjutan. Pada tahun 1985, ketua yayasan Ibu Murdiati Sulastomo memprakarsai berdirinya Taman Kanak-Kanak Islam, di wilayah Cinere, Sawangan, Kab.  Bogor. Oleh karena yayasan tidak mempunyai modal baik berupa uang maupun asset, maka Taman Kanak-Kanak yang didirikan mengambil tempat di garasi rumah Ibu Nunuk/Pak Sulastomo, di jalan Ambon, Cinere, Sawangan.

Garasi rumah serta halamannya cukup luas, untuk bisa menampung kegiatan Taman Kanak-Kanak tersebut.

Pada awal berdiri TK, tidak ada orang yang mengenal adanya TK bdi jalan Ambon tersebut, dan murid harus dicari di kampung-kampung di sekitar Cinere. Dari kampung-kampung itu diperoleh 11 orang calon murid, umumnya dari keluarga yang kurang/tidak mampu. Dari 13 murid yang ada, hanya 1 orang anak dari keluarga di perumahan Megapolitan Cinere dan yang 1 orang anak lagi, anak dari Kepala Sekolah TK (Bu Hen). Dari 13 anak tersebut, hanya 2 orang anak saja yang membayar uang sekolah, yang 11 orang anak dibebaskan dari uang sekolah dan bahkan diberikan pakaian seragam dan peralatan sekolah secara gratis.

Untuk membuka Taman Kanak-Kanak tersebut telah ditunjuk Ibu Hendriati Adham sebagai Kepala Sekolah. Beliau adalah salah seorang pengurus Yayasan dan yang bersangkutan adalah seorang sarjana pendidikan dari IKIP Muhammadiyah, Jakarta. Untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar diangkat seorang guru yaitu Ibu Dian Kamaliah, dan sebagai Tata Usaha sekolah diangkat Sdr. Yati Maryati.

Setelah Taman Kanak-Kanak berdiri, ada pemikiran dari Bu Nunuk untuk mendirikan Sekolah Dasar. Pemikiran ini mendapat sambutan yang positif dari Bapak Drs. Ahmad Fuadi dan Ir. Moh. Soeyoethi, teman dekat Pak Sulastomo, yang menawarkan tanahnya yang berada di lingkungan Cinere untuk digunakan sebagai lahan pembangunan gedung Taman Kanak-Kanak dan gedung Sekolah Dasar.

Tawaran itu tentu saja diterima dengan senang hati oleh Bu Nunuk maupun Pak Tom. Namun masalah timbul, yaitu yayasan tida punya dana untuk membangun gedung TK, apalgi untuk membangun gedung SD.

Rupanya Bapak Ahmad Fuadi memahami kesulitan yang dihadapi oleh Bu Nunuk, dan Pak Fuadi menyanggupi akan membangunkan sebuah gedung Taman Kanak-Kanak dan beberapa ruang  kelas untuk Sekolah Dasar. Berkat bantuan Pak Fuadi dan Pak Soeyoethi, Taman Kanak-Kanak dan beberapa ruang kelas Sekolah Dasar adapat berdiri pada tahun 1986.

Sebagai kelanjutan Taman Kanak-Kanak, pada tahun 1986 berdiri Sekolah Dasar Islam Dian Didaktika di Jl. Rajawali, Cinere, Kel. Gandul.

Gedung TK dan SD Islam Dian Didaktika telah berdiri di Jl. Rajawali, Cinere, di atas tanah seluas 3.750m2 milik Bapak Ahmad Fuadi dan Bapak Ir. Moh. Soeyoethi. Pada tahun 1986 TK Islam Dian Didaktika pindah ke Jl. Rajawali, Cinere, Kel. Gandul.

Ketika sudah ada gagasan untuk mendirikan Sekolah Dasar pada tahun 1986, sebagai calon guru telah dicadangkan Ibu Murti Sabarini (Bu In), yang ketika itu masih menjabat sebagai guru SD Harapan Ibu. Sebagai salah seorang pengurus yayasan (wakil ketua II) yang bersangkutan menyanggupi untuk pencalonan tersebut.

 

Pada saat SD Islam Dian Didaktika berdiri pada tahun 1986, Ibu In menjabat sebagai guru dan Kepala Sekolah sekaligus. Selain berpengalaman sebagai guru di SD Islam Harapan Ibu, Ibu In juga berpengalaman sebagai guru di SMA Islam Al Azhar Kebayoran Baru. Ibu In juga seorang sarjana pendidikan dari IKIP Muhammadiyah, Jakarta.

Bagaimana yayasan bisa membiayai operasional sekolah, sementara yayasan tidak memiliki dana? Apakah Pengurus yayasan minta sumbangan kepada para pendiri yayasan?

 

TAHUN-TAHUN PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

Pada awal berdirinya Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Islam Dian Didaktika, Kepala Sekolah TK tidak digaji, Kepala SD tidak digaji. Guru TK, Guru SD, TU diberi honoririum yang mungkin belum sewajarnya. Honor yang dibayarkan keluar dari uang pribadi Ketua Yayasan Ibu Murdiati Sulastomo. Bahkan pengeluaran operasional untuk pengadaan peralatan, kertas, listrik, fotocopy, dsb, keluar dari uang pribadi Ibu Nunuk sendiri.

Untuk kebutuhan perjalanan dinas, rapat dinas ke kantor Dinas Pendidikan, dsb, digunakan kendaraan milik bu In dan atas beban bu In sendiri, dengan sopir pribadi (alm. Pak Mamat). Bahkan kebutuhan untuk gelas, cangkir, piring, kebutuhan dapur, dsb, Bu In membawa dari rumah, agar tidak perlu membeli, karena memang tidak ada dana.

 

Mengapa demikian? Karena Bu In sendiri sebagai guru dan Kepala Sekolah, tahu apa yang dibutuhkan di sekolah, sementara yayasan belum memiliki barang-barang tersebut dan yayasan juga belum punya dana untuk membeli.

PEMBENAHAN ADMINISTRASI

Ketika kegiatan sekolah sudah dimulai, maka kegiatan pencatatan, surat menyurat serta kegiatan administrasi yang lain sudah dimulai. Pada saat itu Yayasan belum siap dengan perangkat administrasi yang diperlukan, bentuk-bentuk surat menyurat, bentuk-bentuk pelaporan, belum tersedia. Sementara itu pemberian honor kepada guru dan pegawai yang lain harus diberikan secara adil.

Oleh karena itu Bapak Hendraka, yang sejak awal berdirinya Yayasan mengamati perkembangan Yayasan dan pendirian sekolah Dian Didaktika, secara diam-diam merasa terpanggil untuk terjun membantu jalannya Pendidikan Islam Dian Didaktika.

Memang Bapak Hendraka termasuk salah seorang Pendiri Yayasan Dian Didaktika, tetapi yang bersangkutan bukan Pengurus Yayasan. Berbekal pengalaman 20 tahun sebagai PNS serta pengalaman diberbagai organisasi Islam, Bapak Hendraka secara sukarela terjun membantu, menyiapkan administrasi di lingkungan Pendidikan Islan Dian Didaktika.

Pertama-tama disusun sistem penggajian, sistem surat menyurat, kemudian dikembangkan menjadi Pedoman Kepegawaian. Pedoman kepegawaian disusun mencakup rekrutmen, sistem kepangkatan, sistem penggajian, sistem kerja, job description, sistem pensiun, penghargaan pendidik dan sebagainya.

Disamping itu, Bapak Hendraka juga membantu TU dalam penyusunan pencatatan, pembukuan dan pelaporan keuangan. Kemudian disusun pula Pedoman Pengelolaan Keuangan Yayasan Dian Didaktika.

Pada saat yang bersamaan Bapak Hendraka juga menyiapkan sistem pencatatan pemasukan dan pengeluaran barang termasuk sistem pengadaan barang. Semuanya disampaikan dalam Pedoman Penyediaan dan Pengelolaan Barang. Pedoman-pedoman kepegawaian, pengelolaan keuangan dan pengelolaan barang itu terus menerus dibina dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi.

Keterlibatan Bapak Hendraka tidak terbatas pada penyiapan perangkat administrasi, tetapi dalam beberapa hal Bapak Hendraka terjun langsung menangani masalah, misalnya ketika diperlukan pengurusan izin operasional sekolah, Bapak Hendraka langsung mengurus ke Dinas Pendidikan di Bogor pada waktu itu.

Ketika ada syarat yang belum dipenuhi maka Bapak Hendraka langsung menyiapkan sendiri apa yang diperlukan. Pada saat itu domisili yayasan ada di Jakarta, ketika mengajukan izin operasional, maka disyaratkan harus ada cabang di Kabupaten Bogor. Maka Bapak Hendraka langsung membuat Pengurus Cabang Bogor, dengan Ketua Bapak Hendraka sendiri dan Sekretaris Ibu Yati. Kepengurusan cabang ditanda tangani oleh Ketua Ibu Nunuk dan Sekretaris Ibu Suhatmi. Setelah menunggu beberapa bulan lamanya, akhirnya izin operasional keluar pada 1987, baik untuk SD maupun TK.

Sementara kegiatan belajar mengajar terus berjalan, berkat kesungguhan para guru dan Kepala Sekolah, lulusan pertama SD tahun 1992, merupakan lulusan terbaik di Rayon Bogor Utara.

Sejak terlibat dalam pengurusan yayasan itu, Bapak Hendraka sudah ikut menanda tangani surat-surat yayasan, termasuk surat pengangkatan pegawai. Oleh karena itu diciptakan jabatan baru di yayasan yaitu Koordinator Bidang Pendidikan. Walaupun tidak masuk dalam akta notaris, namun kehadiran Bapak Hendraka secara internal diakui oleh para pengurus yayasan.

 

Kehadiran Bapak Hendraka dalam kegiatan kepengurusan pendidikan di Yayasan Dian Didaktika ini pada akhirnya mendapatkan pengakuan dari Pembina dan Pengurus Yayasan, yang kemudian menetapkan Bapak Hendraka sebagai Ketua Bidang Pendidikan pada tahun 1995 suatu jabatan pada awalnya dijabat oleh Ibu Arini Sudarsono.

 

 

MASA PENGEMBANGAN

Pada awal berdirinya pada tahun 1986, jumlah murid SD Islam Dian Didaktika tidak lebih dari 13 anak. Enam tahun kemudian, pada tahun 1992, jumlah murid telah mencapai 250 orang. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat telah percaya kepada keberadaan sekolah Dian Didaktika. Pada tahun 1992 tersebut SD Islam Dian Didaktika untuk pertama kalinya mengikuti Ujian Nasional. Hasilnya alhamdulillah sangat menggembirakan.

Murid SD Islam Dian Didaktika lulus 100% dan nilainya terbaik di rayonnya, yaitu Bogor Utara.

Kalau mengingat bahwa sebagian besar muridnya, bukan murid yang terpilih, namun karena kerja keras dari para guru dan kepala sekolahnya, maka SD Islam Dian Didaktika dapat meraih prestasi yang tertinggi di rayonnya. Prestasi yang di raih oleh SD Islam Dian Didaktika tersebut telah menimbulkan apresiasi dan kepercayaan dari para orangtua murid pada waktu itu.

 

Sehingga para orangtua murid, yang anaknya telah lulus SD tersebut, mengusulkan kepada Pengurus Yayasan agar yayasan membuka SMP di lokasi yang sama.

 

Sebenarnya, yayasan belum ada rencana untuk membuka SMP pada tahun 1992 itu, karena yayasan belum punya gedung untuk SMP dan belum ada dana untuk membangun gedung SMP. Namun karena desakan orangtua, akhirnya yayasan menyetujui usulan orangtua, dengan catatan bahwa untuk sementara SMP yang dibuka akan menempati ruang SD yang masih kosong.

 

Ternyata para orangtua tidak keberatan dengan kondisi tersebut, maka pada tahun 1992 itu SMP Islam Dian Didaktika dibuka, dengan menempati ruang SD yang belum digunakan. Jumlah murid SMP yang pertama sebanyak 13 orang, 8 murid berasal dari lulusan SD Islam Dian Didaktika dan 5 orang murid dari SD luar Dian Didaktika.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, sebagian diambil dari tenaga pendidik dari SD dan sebagian yang lain diambil dari sekolah-sekolah lain secara tidak penuh (honorer). Untuk Kepala Sekolah ditunjuk Drs. Endi Suhendi, yang sebelumnya menjabat wakil Kepala SD Islam Dian Didaktika.